Saturday, May 26, 2012

DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT


Bagi sebagian orang, setelah beberapa bulan berlibur, rasanya akan merasa malas untuk belajar kembali. Harus menghafal teori-teori dan mengerjakan pekerjaan rumah yang telah ditentukan oleh sang guru. 
Apalagi gua masih mempunyai pekerjaan penuh waktu, jadi harus pandai-pandai membagi waktu. Jika tidak, pasti akan mudah putus ditengah jalan.
Tetapi yang cukup menguntungkan, bidang pelajaran yang gua ambil merupakan bidang yang gua sukai, yakni bidang desain grafis. Lagi pula gua mempunyai pengalaman di bidang ini sebelumnya. Jadi gua mempunyai kepercayaan diri yang cukup tinggi. 
Bahkan dalam hati kecil berkata, mungkin kemampuan gua tidak kalah dengan guru atau kaprog yang akan mengajar. 

Waktu memasuki wawancara dengan kaprog, gua dinyatakan ‘lulus’ dan boleh mengambil mata pelajaran tingkat menengah sesuai dengan keinginan. Maka dengan rasa percaya diri yang super mantap, gua pun masuk pada hari pertama gua. Seminggu telah berlalu dan gua mengikuti kelas jurusan yang gua ambil pada semester itu. Dan tak ayal lagi, gua menerima pekerjaan rumah yang menumpuk dari setiap pelajaran. Belum lagi kalau ada acara" lain yang harus gua ikutin pada saat itu. Maka tak terasa terjadi perubahan jadwal dalam kehidupan sehari-hari, dimana setelah delapan jam harus menimba ilmu, dan juga masih harus menyempatkan diri untuk menyelesaikan proyek pekerjaan rumah. Dan hari-hari itu membuat gua cukup stress. Rasanya tidak ada waktu lagi untuk bersantai. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, tekanan yang gua alami rasanya menghambat ide kreasi pembuatan desain grafis yang harus diselesaikan. Dan hal ini semakin lama gua rasain tambah berat.Hal tersebut semakin nyata dengan hasil yang kurang baik saat penyerahan raport. Maka tekanan semakin membebani hati dan pikiran. 


Setiap kali hendak berangkat, gua merasa enggan karena perasaan tertekan. Doa juga tak terlupakan sambil bertanya kepada Tuhan, apakah ini kehendak Tuhan? Atau gua yang salah mengambil keputusan? Dan saatnya pula gua mengevaluasi apakah ada yang salah dari saya? Dalam Hadist disebutkan "Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku (Muhammad SAW) agar kalian rendah hati. Sehingga tak seorangpun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya."(HR Muslim). Kepercayaan diri yang berlebihan merubah gua jadi tinggi hati. gue meremehkan pelajaran yang diterima, karena memang secara praktis delapan puluh persen pelajaran tersebut telah gua praktekan dalam dunia bisnis. Maka gua anggap, gua dapat melakukan semua perkerjaan rumah tersebut dengan sebelah mata.

Dan ternyata itulah awal kejatuhan ini. Gua teringat akan cerita tentang seekor katak yang harus memilih salah satu dari dua bejana yang diletakkan dihadapannya. Bejana pertama berisi air mendidih, sedangkan bejana kedua berisi air suhu normal yang diletakkan diatas sebuah kompor. Dan ternyata si katak lebih suka melompat masuk bejana kedua, karena si katak berpikir bejana pertama sangat berisiko baginya. Setelah didalam bejana yang kedua, si katak nampak enjoy dan tidak merasakan perubahan suhu air yang sedikit demi sedikit temperaturnya mulai naik hingga mencapai titik didih. Apa yang terjadi kemudian? Si katak mati terebus. 


Mungkin ini adalah gambaran yang tepat tentang dosa. Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita telah terbuai oleh dosa, kita telah menggantikan Tuhan dengan diri kita atau dengan hal lain yang kita sukai. Perlahan-lahan kita tidak akan bergantung lagi pada Tuhan, tetapi lebih bergantung pada kepandaian otak kita, materi yang kita punyai, kekuatan tubuh kita dan sebagainya. Dari ‘kegagalan’ tersebut, aku diingatkan kembali untuk berendah hati, tetap setia mengandalkan Tuhan dalam hidupku. 

Seperti pepatah Cina yang mengatakan, “Di atas langit masih ada langit” yang artinya, ketika kita merasa hebat atau pandai, jangan lupa bahwa masih ada orang lain yang lebih hebat atau lebih pandai dari kita. Atau kata lainnya hal itu mengajarkan pada kita untuk dapat berendah hati dan tidak menyombongkan diri.